Preambule
Ada perasaan rindu mendalam yang kurasakan dengan rutinitasku sejak SMP dulu, yang beberapa tahun ini mulai kutinggalkan. Dulu, rutinitas mingguanku adalah menulis di blog, lalu klik publikasi, dan mempromosikannya ke sesama rekan blogger. Belakangan aku baru sadar kayaknya sensasi healing itu selalu muncul sehabis melakukan aktivitasku.
Dewasa ini, sebenarnya bukan tidak menulis. Aku menulis paper, menulis laporan, menulis juga kehidupan keseharianku, namun di tempat yang lebih privat seperti buku diari. Tapi ada sensasi berbeda ketika aku menuliskan dan menekan tombol publikasi, lalu aku membiarkan tulisanku dibaca orang lain. apa ya, rasanya seperti membuang sampah yang selama ini menumpuk di pikiranku. Semacam itu. Buat orang yang pikirannya sepertinya tidak pernah diam, sepertinya rutinitas seperti ini jauh lebih berharga daripada aktivitas lainnya.
Nah, tapi aku sebelum ini masih berpikir panjang lagi untuk membuat semacam jurnal tulisan ini. Pertama, aku sudah dewasa, sudah bekerja juga. Dulu, aku bisa menuliskan apa saja yang aku pikirkan tanpa banyak filter di tulisanku. Sekarang, sudah banyak sekat-sekat yang membatasiku untuk bisa menulis tanpa banyak pikir. ada norma-norma yang harus kupatuhi. Aku juga seorang pendidik, yang pastinya aku tidak bisa lagi asal-asalan nulis seperti dulu, memperlihatkan kealayanku tanpa filter ke mahasiswaku rasanya agak janggal. Tapi entahlah, untuk sekarang rasanya masih cukup asing membayangkan mahasiswaku membaca tulisan receh-receh dari dosennya. Aku dulu suka sekali membuat tulisan yang seolah inspiratif. Saat ini aku sadar aku tidak ada inspiratif-inspiratifnya. Dan tidak tertarik lagi untuk effort menghasilkan tulisan yang memotivasi, atau inspiratif dan lain-lain. Aku cuma ingin menulis keseharian yang ringan dan receh. Nah aku punya kekhawatiran kalau marwahku mungkin akan jatuh di mata mahasiswa kalau melihat tulisanku yang begini.
Tapi barangkali aku juga harus menerima kenyataan kalau seberapa kuatpun aku mencoba stay cool didepan mahasiswa, pada akhirnya asliku juga akan kelihatan, jadi membuat topeng juga bukan solusi.
Kedua, aku merasa blog ini sebenarnya old style sekali, wkwk. Tapi aku merasa paling nyaman dengan blog sebenarnya. Nulis di sosial media sih bisa ya, tapi masing-masing ada kekurangannya sendiri yang membuat tidak terlalu nyaman untuk buat tulisan panjang. sebagai contoh, di instagram aku dibatasi kata-katanya. kalau di facebook, disitu tidak banyak lagi teman-temanku. yang ada hanya orang tua, agak was-was nulis disana haha. aku juga tidak suka tulisanku bercampur dengan banyak status orang lain, rasanya bikin overwhelmed di sosial media karena sehabis aku membaca tulisanku di bawahnya pasti di sarankan untuk membaca tulisan lainnya. aku ingin satu ruang sendiri dimana tidak ada algoritma, tidak ada tombol like, sehingga pembacanya ya datang khusus untuk membaca, bukan hanya scroll-scroll sedikit saja lalu berganti ke topik lainnya.
Selain itu, ada kepuasan sendiri kalau mendesain tampilan blog sendiri. instagram dan facebook tidak bisa melakukan itu. tampilannya hanya begitu saja.
Satu lagi, pembuatan blog ini dipicu oleh satu kasus yang lagi ramai belakangan ini, tentang seorang diplomat muda. Akibat kasus itu, aku jadi membaca lagi isi blognya dan entah kenapa aku memang lebih enjoy membaca tulisan lewat blog, dan perasaan rindu itupun muncul lagi.
ada pikiranku yang meyatakan kalau di blog, pengunjungnya nggak akan seintens kalau aku post di sosial media. kalau di sosmed pasti pergerakannya cepat karena algoritma yang memainkan. Aku senang tulisanku dibaca, tapi rasanya kalau di sosmed itu hanya akan jadi sebuah tulisan yang berlalu begitu saja ya karena ibaratnya terlalu banyak orang yang berteriak di dalam suatu ruangan kecil, meminta atensi dari orang-orang yang juga ada di dalam ruangan tersebut. Di blog ini, seperti ruangan yang di khususkan untuk diriku sendiri, penontonnya pun khusus datang untuk menikmati hasil karyaku. itu ide yang lebih menarik
Oke. Itu untuk satu hal. hal lainnya, sejujurnya judul blog ini random sekali, tidak ada filosofi tersembunyi. aku hanya sedang mikir apa judul yang bagus buat blog ini dan kedengarannya jurnal sebelum tiga puluh itu menarik.
Untuk sekarang ini, sampai disini dulu. semoga aku konsisten memberikan tulisan disini ya
Komentar
Posting Komentar